Label Halal Kemenag Terjerumus Kearifan Lokal Budaya Jawa

Senin, 14 Maret 2022 – 10:09 WIB
Label Halal Kemenag Terjerumus Kearifan Lokal Budaya Jawa - JPNN.com Sultra
Waketum MUI Anwar Abbas menyampaikan surat terbuka atas pengunduran diri Kiai Miftachul Akhyar sebagai Ketum MUI. Isinya Mengharukan. Foto: ANTARA/Anom Prihantoro

sultra.jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Agama meluncurkan label halal yang berbentuk gunungan wayang, Sabtu (12/03). Logo baru ini akan menggantikan label halal MUI yang sejak 1988 digunakan.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menilai label halal Kemenag lebih mengedepankan artistik dan budaya lokal tertentu ketimbang menonjolkan kata halal dalam bahasa Arab.

"Banyak orang mengatakan kepada saya setelah melihat logo tersebut yang tampak oleh mereka bukan kata halal dalam tulisan arab, tetapi gambar gunungan yang ada dalam dunia perwayangan," kata Anwar Abbas dalam keterangannya yang diterima JPNN.com, Senin (14/3).

Pria kelahiran 15 Februari 1955 itu juga menilai logo baru ini tampaknya tidak bisa menampilkan sisi kearifan nasional. Namun, sebaliknya justru terjerumus dalam kearifan lokal terutama budaya Jawa.

"Di situ tidak tercerminkan apa yang dimaksud dengan keindonesiaan yang kita junjung tinggi, tetapi hanya mencerminkan kearifan dari satu suku dan budaya saja dari ribuan suku dan budaya yang ada di negeri ini," ujar pria kelahiran Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, itu.

Buya Anwar mengaku hanya bisa tersenyum dan tidak bisa berbuat banyak terhadap label halal baru tersebut.

"Saya secara pribadi hanya bisa tersenyum sambil bergumam memang kata persatuan dan kesatuan serta kebersamaan itu sangat mudah untuk diucapkan, tetapi ternyata dalam fakta dan realitasnya terlalu sangat susah dan sulit untuk diwujudkan," lanjutnya.

Dia mengungkapkan saat tahap pembicaraan awal pembentukan logo baru, ada 3 unsur yang ingin diperlihatkan yaitu kata BPJPH, MUI, dan kata halal.

Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas menilai label halal Kemenag terjurumus kepada kearifan lokal budaya Jawa, tidak menunjukkan kearifan nasional.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Sultra di Google News